Rabu, 27 Mei 2026

Berbagi Film Paling “Membekas” The Lion King

 Di WAG #100HariCariPerkara kemarin tantangannya #Tantangan13 Berbagi Film Paling “Membekas” 


Kalau ditanya film apa yang paling membekas dalam hidupku, jawabannya mungkin sederhana… tapi jejaknya panjang sekali di hati kami sekeluarga: The Lion King 🦁

Film itu bukan sekadar tontonan.

Ia seperti penanda perjalanan hidup.


Dulu… saat kami masih muda, masih sama-sama malu menyebut “masa depan”, aku dan lelaki yang sekarang menjadi suamiku pergi menonton The Lion King bersama. Waktu itu kami belum menjadi suami istri. Masih dua orang yang sedang belajar saling mengenal, belajar saling percaya, dan diam-diam menyimpan harapan tentang hidup bersama.

Yang paling melekat di ingatanku waktu itu adalah kalimat:

“Hakuna Matata.”

Katanya artinya “tidak perlu khawatir”.

Dulu aku menganggapnya lucu, ringan, dan menyenangkan. Seolah hidup memang bisa dijalani sambil tertawa dan bernyanyi seperti Timon dan Pumbaa.

Tapi ternyata… setelah usia bertambah, aku baru sadar bahwa maknanya jauh lebih dalam.

“Hakuna Matata” bukan berarti hidup tanpa masalah.

Melainkan tentang belajar tetap berjalan meski hidup penuh luka, kehilangan, dan ketidakpastian.

Dan ternyata benar… kehidupan setelah menikah tidak selalu mudah.

Ada masa-masa lelah. Ada tanggung jawab yang berat. Ada hari ketika hati terasa penuh. Ada ketakutan tentang anak, masa depan, ekonomi, kesehatan, dan banyak hal lainnya.

Namun anehnya… setiap kali mengingat kalimat itu, rasanya seperti diingatkan untuk bernapas lebih pelan.

Bahwa hidup tidak harus sempurna untuk tetap disyukuri.


Lalu waktu berjalan…

Kami punya anak pertama, si sulung yang lahir tahun 1996. Dan tanpa disangka, The Lion King menjadi film favoritnya. Film itu diputar lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai mungkin ratusan kali 😄

Aku hafal dialognya.

Hafal adegannya.

Hafal kapan Simba mulai sedih, kapan Timon mulai bercanda, bahkan hafal lagu-lagunya.


Dan ketika si bungsu lahir tahun 2003… cerita itu terulang lagi.

Rumah kami kembali dipenuhi suara:

🎵 Hakuna Matata… what a wonderful phrase… 🎵

Kadang diputar dari VCD yang mulai buram. Kadang anak-anak menirukan gaya Simba kecil sambil berlari-lari di ruang tamu. Kadang kami menonton sambil makan camilan sederhana, tanpa sadar bahwa momen-momen kecil itu kelak akan menjadi kenangan paling mahal.


Sekarang… setelah anak-anak tumbuh besar, aku justru semakin mencintai filosofi lain dari film itu:

“The Circle of Life.”

Dulu mungkin aku hanya mendengar lagunya indah.

Sekarang aku memahami maknanya.

Bahwa hidup memang berputar.

Ada masa menjadi anak kecil yang digendong.

Lalu tumbuh menjadi orang tua yang menggendong anak.

Ada masa kuat. Ada masa rapuh.

Ada pertemuan. Ada kehilangan.

Ada awal kehidupan… dan ada perpisahan yang tak bisa ditolak.


Semua saling terhubung.

Seperti alam yang terus berputar.

Seperti bumi yang harus dijaga agar generasi berikutnya tetap bisa hidup dengan baik.

Mungkin karena itu sekarang aku begitu mencintai pekerjaan dan perjuangan tentang lingkungan hidup. Karena aku sadar, “circle of life” bukan cuma tentang manusia. Tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan bumi tempat semua kehidupan berlangsung.


Dan dari sekian banyak adegan… ada satu yang sampai sekarang masih membuat hatiku hangat:

Saat Simba dan Nala bertemu kembali.

Dengan lagu Can You Feel the Love Tonight mengalun pelan di belakangnya.

Adegan itu sederhana. Tapi rasanya begitu dalam.

Tentang dua jiwa yang akhirnya kembali menemukan rumahnya.

Tentang cinta yang tumbuh bersama waktu.

Tentang seseorang yang tetap terasa akrab meski hidup sudah membawa kita jauh ke mana-mana.

Mungkin itu juga yang kurasakan tentang pernikahan.

Bahwa cinta bukan cuma tentang momen besar.

Tapi tentang menemani perjalanan panjang kehidupan.

Tentang bertahan melewati perubahan.

Tentang tetap saling memilih, bahkan setelah puluhan tahun.

Dan lucunya… semua kenangan itu bermula dari seekor anak singa kecil bernama Simba 🦁✨



Tidak ada komentar:

Posting Komentar