Sabtu, 02 Mei 2020

Ketahanan Pangan saat Pandemi covid-19



Makanan adalah salah satu kebutuhan paling di cari saat ini, apalagi di masa pandemic seperti ini.  Saat  beberapa kota/kabupaten mulai memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), bermunculan berita tentang keluarga-keluarga yang kelaparan meskipun akses makanan tak pernah di tutup.  Mulai terasa bahwa ketahanan pangan kita rapuh padahal kita adalah negara agraris,  yaitu  negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian.  
 
Ironinya, Indonesia adalah negara ke-dua terbanyak yang membuang makanan menjadi sampah.  Sampah makanan bisa di katagorikan menjadi dua macam, food loss dan food waste.  Food loss adalah hilangnya sejumlah pangan antara rantai pasok produsen dan pasar. Permasalahan food loss bisa diakibatkan oleh proses pra-panen seperti pangan tersebut tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar, permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan dari pangan tersebut sehingga produsen memutuskan untuk membuang pangan tersebut karena ditolak oleh pasar.. Food loss biasanya terjadi akibat tingkat produksi pangan yang tinggi namun  tidak diimbangi dengan teknologi yang memadai sehingga sebelum sampai ke tangan konsumen  pangan tersebut ada yang rusak dalam prosesnya maupun tidak sesuai dengan mutu yang diinginkan pasar. Sedangkan  food waste adalah  makanan yang dibuang padahal  makanan tersebut masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi,  namun jika mengacu pada definisi yang diberikan oleh FAO food waste berarti jumlah sampah yang dihasilkan pada saat proses pembuatan makanan maupun setelah kegiatan makan yang berhubungan dengan prilaku penjual dan konsumennya. 

Food waste bisa berasal dari rumah tangga ataupun dunia usaha, misalnya makanan yang masih bersisa di piring atau di meja makan lalu di buang atau makanan kadaluarsa di toko  atau supermarket. Data dari FAO, sepertiga makanan yang diproduksi manusia terbuang sia-sia,  padahal kita punya target dari point ke 12 SDGs (Sustainable Development Goals) mereduksi sisa makanan dan memastikan bahwa setiap orang sadar gaya hidup yang berkelanjutan secara harmonis dengan alam
Memasuki abad ke-21 dalam pengelolaan sampah kita mengenal resource management, artinya bagaimana kita menangani sumber daya yg kita buang dengan cara yg tidak 'mengurangi atau menghilangkan' nilainya bagi generasi masa depan? Atau yang lebih di kenal dengan Circular economy.  Sebelum benar-benar jadi sampah kita harus memastikan bahwa food waste   harus kita jaga dan kembalikan ke alam, maka food waste harus kita jadikan :
  1. Makanan orang, karena masih banyak orang yang kelaparan.  Jika sisa makanan kita masih layak makan maka berikanlah pada orang yang membutuhkan. 
  2.   Makanan hewan, jika ada hewan di sekitar kita maka berikanlah sisa makanan kita pada hewan yang bisa memakannya. 
  3.  Makanan tanah, kita memerlukan tanah subur tanpa polutan untuk menghasilkan makanan sehat agar masyarakatnya juga sehat.  Yaitu dengan berbagai teknik pengomposan seperti biopori, tong komposter, Takakura, pipe composter dan lain sebagainya



Jika food waste sudah benar-benar menjadi sampah makanan maka ada 4 tahap yang harus kita perhatikan yaitu
  1.   Pisahkan material organik sisa masak atau makan 
  2.   Kompos, yang pada prinsipnya adalah kembalikan  ke alam dengan berbagai cara
  3.   Manfaatkan sebagai  media tanam atau pupuk kompos
  4.  Tanam kembali, jika memungkinkan sisa makanan tersebut harus  kembali ke dapur dan menjadi konsumsi harian dengan cara di tanam kembali, sehingga tercapailah circular economy

Jika 4 langkah tersebut kita lakukan maka kita mendapat manfaat sbb:
  1. Mengurangi volume sampah yang sampai ke TPA
  2. Mengurangi biaya angkut ke TPS/TPA
  3. Memiliki nilai manfaat yang lebih tinggi dari pada sekedar sampah
  4. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah
  5. Menghemat SDA
Satu hal yang sangat penting kita lakukan dalam mensikapi kebutuhan pangan kita adalah kurangi sedari awal kemungkinan makanan kita menjadi food waste dengan 3 langkah sederhana ambil secukupnya, makan dan habiskan makanan mu. 
Lalu apa yang bisa kita lakukan saat pandemic seperti ini untuk menguatkan ketahanan pangan masyarakat?  Mari kita mulai memanfaatkan lahan pekarangan dan mulai kreatif menanam sendiri beberapa sumber makanan kita di rumah mengurangi konsumsi daging, memilih sayur-buah lokal, memasak dengan benar, dan mengurangi sampah makanan. 

Tini Martini Tapran
ketua Yayasan Generasi Semangat Selalu Ikhlas (GSSI)