kembali menulis setelah sekian lama tidak menulis adalah sesuatu yang sepertinya akan di mulai dari awal dan belajar untuk tetap konsisten menulis
Rabu, 18 Desember 2024
Selasa, 17 Desember 2024
Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Kabupaten Garut melalui Kang Raling (Kampung Ramah Lingkungan)
Permasalahan Pengelolaan Sampah di Kabupaten Garut
Sampah merupakan salah satu masalah krusial di Kabupaten
Garut, seperti halnya di banyak kota lainnya di Indonesia. Dengan timbulan
sampah mencapai 1.200 ton/hari, kemampuan layanan pengangkutan Dinas
Lingkungan Hidup (DLH) Garut hanya sekitar 250 ton/hari, mencakup 13
kecamatan yang belum sepenuhnya tersentuh hingga tingkat RW.
Peristiwa darurat sampah tahun 2019 akibat overload TPA
Pasirbajing menjadi pelajaran penting. Selain itu, kejadian kebakaran di
TPA Pasirbajing pada pertengahan 2023 menegaskan perlunya sistem pengelolaan
yang lebih baik dan berkelanjutan.
Sesuai dengan Jakstrada (Kebijakan dan Strategi Daerah),
Kabupaten Garut menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan
sebesar 70% pada tahun 2025. Namun, keterbatasan anggaran, armada, dan SDM
menjadi tantangan besar dalam mencapai target ini.
Solusi melalui Kang Raling
Untuk menjawab tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Garut melalui DLH merancang program unggulan Kang Raling (Kampung Ramah Lingkungan) sebagai langkah inovatif dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Tujuan Kang Raling:
- Mengurangi
Sampah ke TPA: Membatasi jumlah sampah yang diangkut ke TPA dengan
pengelolaan sedekat mungkin dengan sumbernya.
- Menghilangkan
Sampah Liar: Mengurangi titik-titik pembuangan liar melalui sistem
berbasis komunitas.
- Meningkatkan
Partisipasi Masyarakat: Mengedukasi dan memberdayakan masyarakat untuk
berperan aktif dalam pengelolaan sampah.
- Membangun
Model Berkelanjutan: Menyediakan contoh sistem pengelolaan sampah yang
efektif di tingkat RW atau desa.
Strategi dan Implementasi Kang Raling
Program Kang Raling dirancang berdasarkan prinsip
desentralisasi pengelolaan sampah sesuai UU No. 18 Tahun 2008. Beberapa
strategi yang diterapkan meliputi:
- Pendampingan
RW/Desa
- Melakukan
edukasi tentang pemilahan sampah (organik, anorganik, dan residu).
- Membentuk
kelompok masyarakat seperti KSM, pengelola kompos, dan
pengolah daur ulang.
- Pengelolaan
Sampah di Tingkat Sumber
- Sampah
organik diolah menjadi kompos atau eco-enzyme.
- Sampah
anorganik dikumpulkan untuk didaur ulang melalui bank sampah, sedekah sampah atau
kerajinan kreatif.
- Residu sebaiknya dikelola oleh pemerintah ke TPA atau dikelola komunal khusus untuk mencegah pencemaran lingkungan daripada di bakar oleh masing-masing warga atau berakhir di sungai atau lahan kosong.
- Model
Kolaborasi Pentahelix
Melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan media, untuk memastikan keberlanjutan program. - Monitoring
dan Evaluasi
- Mengukur
keberhasilan berdasarkan pengurangan timbulan sampah dan peningkatan
partisipasi masyarakat.
- Menggunakan
Kang Raling sebagai pilot project untuk diterapkan di wilayah lain.
Dampak dan Harapan
Kang Raling telah menunjukkan dampak positif, seperti:
- Penurunan
sampah liar di beberapa kawasan.
- Peningkatan
ekonomi warga melalui pengolahan sampah bernilai jual.
- Kesadaran
lingkungan yang meningkat di kalangan masyarakat.
Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi solusi model
pengelolaan sampah yang dapat direplikasi, menjadikan Kabupaten Garut lebih
bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Sabtu, 14 Desember 2024
🌱 Refleksi Perjalanan Ecological Leadership : Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik 🌱
Empat tahun terakhir ini saya menjadi kordinator fasilitator program kampung Ramah Lingkungan DLH Garut. Keseharianku bergerak dalam isu lingkungan dan seringkali menemukan hal-hal yang sangat menggangu pikiran dan perasaan di lapangan karena merasa tidak sesuai dengan pengetahuan saya tentang gaya hidup berkelanjutan. Dan itu yang membuatku memberanikan diri mengikuti pelatihan Ecological Leadership selama 4 hari 3 malam. Ini menjadi pengalaman yang sangat berarti buatku karena kami ber-7 mengikuti kegiatan privat dan intensif yang sarat dengan ilmu dan pengetahuan juga refleksi.
Selama mengikuti kegiatan
Ecological Leadership, saya merasakan perjalanan yang begitu mendalam, tidak
hanya untuk memahami alam, tetapi juga untuk mengenali diri sendiri sebagai
bagian dari semesta ciptaan Allah SWT. Saya memperoleh banyak ilmu dan
pengetahuan tentang kosmologi. Pemahaman tentang kosmologi memperluas pandangan
saya tentang posisi manusia dalam semesta, bahwa semua makhluk/benda di alam semesta ini semuanya terhubung. Ini
menyadarkan kami bahwa manusia adalah
bagian yang tak terpisahkan dari seluruh
ciptaan Allah. Dan manusia menjadi bagian dari jaringan kehidupan yang lebih
besar. Saya adalah bagian kecil dari ciptaan Allah yang ada di jagad raya, seperti
sebutir debu di lapangan bola. Dan setiap
elemen baik yang di langit atau di bumi seperti matahari, udara, tanah,
air, tumbuhan, dan hewan saling
terhubung dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Kesadaran ini mengingatkan saya untuk lebih menghormati, melindungi, dan
menjaga alam sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Saya memahami
pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan alam dan mengikuti ritme
kehidupan yang telah ditetapkan oleh Allah.
Banyak pengalaman, pemahaman, dan kesadaran yang ada
selama ini semakin tumbuh dan menguat selama mengikuti kegiatan ini.
Salah satu momen yang selalu berkesan jika berkegiatan Bersama ecocamp adalah
kegiatan yang membantu saya untuk reconnect to the earth. Dengan kaki telanjang
saya menyentuh tanah, tangan menyentuh pohon, dan hati yang terbuka, saya
merasakan kedamaian yang mendalam. Saya diajak untuk merenungkan bagaimana bumi
menyediakan segala kebutuhan kita, tetapi sering kali kita lupa untuk merawatnya.
Momen ini mengajarkan saya pentingnya hubungan yang saling memberi antara
manusia dan bumi.
Saya menyadari bahwa untuk
mengatasi tantangan ekologi yang kita hadapi bukan lagi tentang eksploitasi dan
dominasi, tetapi tentang kerja sama, penghormatan, dan keberlanjutan. Saya
terinspirasi untuk menjadi bagian dari perubahan, mengangkat cerita-cerita baru
yang menanamkan harapan dan semangat untuk menciptakan masa depan yang lebih
baik. Dari banyak buku yang Romo Ferry sebutkan, saya tertarik untuk membuka
buku “Not the End of the World” karya Hannah Ritchie. Buku ini mengajak kita untuk melihat isu-isu
lingkungan melalui sudut pandang yang lebih positif dan berbasis data. Ritchie tidak
membawa narasi yang pesimistis dan penuh
keputusasaan tentang perubahan iklim, tetapi dengan menunjukkan bahwa kemajuan
signifikan telah dicapai dalam berbagai aspek lingkungan. Hannah Ritchie
menggambarkan dunia sebagai tempat yang sedang menuju perbaikan, dengan syarat
kita terus mengambil tindakan kolektif yang tepat.
Dalam bukunya Hannah Ritchie memberikan harapan bahwa dunia bisa mencapai keberlanjutan sejati sekaligus memberikan panduan praktis bagi individu dan komunitas untuk membuat perubahan nyata menuju keberlanjutan. Ritchie juga mengidentifikasi langkah-langkah yang paling efektif untuk mempercepat kemajuan. Dan yang paling cepat yang bis akita lakukan adalah dengan advokasi, bagaimana kitab isa mempercepat ini dengan mendorong pemerintah membuat kebijakan agar kita punya Gerakan kolektif.
Kutipan yang berbunyi, "Leadership is the
burning desire to create a better future and never giving up on it,"
sangat menggugah hati saya. Kepemimpinan yang sejati adalah tentang memiliki
semangat yang membara untuk menciptakan perubahan, meskipun menghadapi banyak
tantangan. Selama kegiatan ini, saya belajar bahwa menjadi pemimpin ekologi
bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang memimpin diri
sendiri untuk hidup lebih selaras dengan nilai-nilai keberlanjutan.
Kegiatan Ecological Leadership
ini membuka mata, hati, dan pikiran saya untuk memahami bahwa manusia adalah
bagian dari jaringan kehidupan yang indah. Kesadaran ini menjadi motivasi saya
untuk terus bergerak, menginspirasi, dan berkontribusi dalam menciptakan masa
depan yang lebih baik – masa depan yang menghormati semua ciptaan Allah dan
menjaga keseimbangan semesta.
Melalui diskusi yang mendalam,
saya belajar bahwa kepemimpinan ekologis bukan hanya soal tindakan, tapi juga
bagaimana kita menginspirasi orang lain untuk peduli pada lingkungan.
Kegiatan ini tidak hanya
memberikan ilmu baru, tapi juga memperkuat komitmen saya untuk terus bergerak
demi bumi yang lebih baik. Terima kasih Ecological Leadership atas pengalaman
luar biasa ini! ayo kita mulai dari langkah kecil di rumah masing-masing.
Bersama, kita bisa menciptakan perubahan besar!
Tini Martini
Tapran
@tini_zerowaste
Rabu, 11 Desember 2024
🌱 Isi Piringku yang Sehat, Seimbang, dan Ramah Lingkungan 🌱
Sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan, sebaiknya kita selalu memastikan bahwa isi piringku bukan hanya sehat untuk tubuh, tapi juga selaras dengan alam. Berikut adalah saran-saran atau panduan yang bisa kita terapkan:
🍚 Karbohidrat Sehat: Pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang rebus, atau singkong yang diambil langsung dari kebun lokal. Selain lebih sehat, ini juga mendukung petani kecil di sekitar kita.
🥗 Sayur-Sayuran Beragam: Setengah piring selalu diisi dengan sayuran segar, seperti bayam, wortel, atau kangkung. Sebaiknya sSayuranya berasal dari hasil panen dari kebun sendiri atau komunitas yang menggunakan kompos organik agar kita dapat memastikan tanpa pupuk dan pestisida kimia.
🍳 Protein Nabati dan Hewani: Mengombinasikan tahu, tempe, kacang-kacangan, serta sesekali ikan atau telur sebagai sumber protein. Sevaiknya semuanya dipilih dan didapat dari pasar lokal untuk meminimalkan jejak karbon.
🍎 Buah-Buahan Musiman: Untuk pencuci mulut, ayo memilih buah-buahan musiman seperti pisang, pepaya, atau mangga. Selain segar, buah musiman mengurangi penggunaan bahan pengawet dan transportasi jarak jauh.
💧 Air Minum: Jangan lupa, air putih selalu jadi pilihan utama untuk hihidrasi. Pastikan menghindari minuman kemasan agar mengurangi sampah plastik dan menjaga kadar gula untuk kesehatan.
✨ Dengan mengikuti ppola Isi Piringku ini, kita berharap bisa menjaga kesehatan sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Yuk, mulai dari langkah kecil di meja makan kita untuk menciptakan dunia yang lebih baik!
Bagaimana isi piringmu hari ini? 🌍💚
Selasa, 10 Desember 2024
Kerjasama atau Sama-Sama Bekerja?
ini adalah refleksi akhir tahunku, dalam menjalani berbagai aktivitas, terutama di lingkungan komunitas atau tim, sering kali kita mendengar istilah "kerjasama" dan "sama-sama bekerja." Meski terdengar mirip, keduanya memiliki makna dan dampak yang sangat berbeda.
Dari literatur, sama-sama bekerja berarti setiap individu melakukan tugasnya masing-masing, namun tidak saling terhubung secara sinergis. Semua berjalan sesuai arahan, tetapi tanpa ada koordinasi yang mendalam. Hasilnya? Tugas selesai, tetapi sering kali ada rasa lelah tanpa kepuasan kolektif. Tidak jarang juga, hasilnya kurang optimal karena kurangnya komunikasi dan rasa kebersamaan.
Kerjasama adalah tentang sinergi, saling mendukung, kolaborasi dan mencapai tujuan bersama. Dalam kerjasama, setiap individu bukan hanya fokus pada tugasnya, tetapi juga memperhatikan bagaimana kontribusinya bisa melengkapi yang lain. Ada dialog, saling percaya, dan rasa memiliki terhadap hasil akhir.
Lalu mana yang Lebih Berdampak? Menurutku, aku pilih bekerjasama karena memiliki dampak yang lebih besar.
Dari literatur yang aku kutip, dengan kerjasama:
1. Efisiensi Terjaga: Setiap orang tahu peran masing-masing dan bagaimana peran itu mendukung keseluruhan tujuan.
2. Hasil yang Optimal: Ide dan upaya digabungkan untuk menciptakan hasil yang lebih baik daripada sekadar menjumlahkan kontribusi individu.
3. Kebersamaan yang Kuat: Kerjasama menciptakan rasa kepemilikan dan kebanggaan kolektif yang mempererat hubungan antaranggota.
4. Dampak Jangka Panjang: Hubungan yang terjalin melalui kerjasama mampu membangun kepercayaan dan komitmen untuk keberlanjutan.
Nah refleksi dan akhirnya melahirkan resolusi 2025 ku tahun ini adalah bagaimana mewujudkan kerjasama yang efektif dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan bertanggungjawab jawab?
1. Bangun Komunikasi yang Terbuka: Memastikan semua pihak merasa didengar dan dihargai. Juga faham akan tahapan yang akan kita lakukan sepanjang 2025.
2. Fokus pada Tujuan Bersama: Berusaha untuk menjauhkan ego pribadi, fokuslah pada visi yang ingin dicapai bersama, ini penting agar semua orang bisa saling membantu bahu membahu mewujudkan tujuan.
3. Pembagian Peran yang Jelas dengan mentukan tanggung jawab masing-masing agar tidak terjadi tumpang tindih, koordinasi yang baik akan sangat membantu.
4. Menghargai proses bukan hanya hasil, mungkin perlu ada sedikit selebrasi dan apresiasi dari setiap usaha, sekecil apa pun, untuk menjaga motivasi tim.
Bismillah, semoga 2024 kita tidak "sama-sama bekerja." tapi beralih ke kerjasama yang, karena di aku yakin akan kekuatan perubahan yang sebenarnya. Bersama-sama kita bisa lebih baik, lebih kuat, dan lebih berdampak!
Kita adalah potongan puzzle yang akan membuat gambar yang indah bersama-sama, ga ada ceritanya kita hebat karena sendirian.
Tolong ingatkan aku ya jika aku keluar jalur di tahun 2025 ini agar kita bisa lebih mudah menciptakan perubahan nyata menuju keberlanjutan
Jumat, 29 November 2024
Menuju Hidup Minim Sampah yang Berkelanjutan dan Mudah Dilakukan
Hidup minim sampah bukan hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang membangun gaya hidup yang lebih sadar, hemat, dan berkelanjutan. Banyak yang beranggapan bahwa hidup minim sampah itu sulit, padahal ada banyak cara sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah langkah-langkah praktis menuju hidup minim sampah yang berkelanjutan:
1. Memulai dengan Kesadaran Diri
Sebelum memulai, penting untuk memahami mengapa hidup minim sampah itu penting. Limbah yang tidak terkelola dengan baik berkontribusi pada pencemaran lingkungan, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem. Dengan kesadaran akan dampak ini, Anda dapat lebih termotivasi untuk memulai perubahan kecil.
2. Terapkan Prinsip 5R
Prinsip 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot) adalah fondasi hidup minim sampah:
-Refuse (Menolak):Tolak barang sekali pakai seperti sedotan plastik, kantong belanja sekali pakai, dan brosur yang tidak dibutuhkan.
- Reduce (Mengurangi): Kurangi pembelian barang yang tidak perlu. Prioritaskan kualitas dari pada kuantitas.
- Reuse (Menggunakan Kembali): Gunakan barang yang dapat dipakai berulang kali, seperti botol minum, tas belanja kain, dan wadah makan.
- Recycle (Daur Ulang): Pastikan barang-barang yang tidak bisa digunakan lagi didaur ulang dengan benar.
- Rot (Mengompos): Olah sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan menjadi kompos.
3. Ganti Barang Sekali Pakai dengan Alternatif yang Tahan Lama
Mulailah mengganti barang-barang sekali pakai dengan alternatif yang dapat digunakan berulang kali:
- Gunakan sedotan stainless steel atau bambu.
- Bawa tas belanja kain ke pasar atau supermarket.
- Gunakan botol minum dan termos pribadi untuk mengurangi konsumsi botol plastik.
4. Belanja dengan Bijak
- Pilih produk dengan kemasan minimal atau tanpa kemasan.
- Beli dalam jumlah besar untuk mengurangi limbah kemasan.
- Belanja di pasar tradisional yang biasanya menggunakan lebih sedikit plastik.
5. Kelola Sampah dengan Baik
Pisahkan sampah sesuai jenisnya: organik, anorganik, dan lainnya. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang dapat didaur ulang bisa diserahkan ke bank sampah atau pusat daur ulang.
6. Edukasi dan Libatkan Keluarga
Perubahan gaya hidup akan lebih mudah jika dilakukan bersama. Edukasi anggota keluarga tentang pentingnya hidup minim sampah dan ajak mereka berpartisipasi dalam kegiatan seperti membuat kompos atau mendaur ulang.
7. Mulai dari Langkah Kecil
Tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dengan satu perubahan kecil, seperti membawa botol minum sendiri, lalu tambahkan langkah lain seiring waktu. Ingat, setiap langkah kecil tetap memberikan dampak besar.
8. Bergabung dengan Komunitas
Komunitas hidup minim sampah dapat menjadi sumber inspirasi dan dukungan. Anda bisa berbagi pengalaman, belajar dari orang lain, dan mendapatkan motivasi untuk terus berusaha.
9. Evaluasi dan Tingkatkan
Secara berkala, evaluasi upaya yang sudah dilakukan. Identifikasi area yang masih bisa ditingkatkan dan teruslah belajar untuk menjadi lebih baik.
Hidup minim sampah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Namun, dengan langkah-langkah sederhana ini, Anda bisa memulainya dengan mudah dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Ingatlah bahwa setiap perubahan kecil yang Anda lakukan akan memberikan dampak positif bagi lingkungan kita.
Jumat, 05 Agustus 2022
Bu Tini : Pejuang dan Penulis Handal dalam Pengelolaan Sampah di Indonesia
Bu Tini : Pejuang dan Penulis Handal dalam Pengelolaan Sampah di Indonesia
(Ketua Yayasan Generasi Semangat Selalu Ikhlas/GSSI).
Ada yang bikin tulisan tentang aku nih. Duh jadi malu deh blom sehebat tulisan itu
Seri Kedua : Perempuan-Perempuan Hebat dalam Pengelolaan Sampah di Indonesia.
Sempat tercenung sesaat ketika akan memulai menulis sosok Bu Tini ini. Tidak bisa dipungkiri karena reputasi Bu Tini yang demikian hebat di jagad pengelolaan sampah di Indonesia. Sebagai bukti adalah semua kegiatan Bu Tini bisa dilihat di berbagai aplikasi on line (media sosial) yang sudah diunggah sejak lama. Selain terlibat dalam pengelolaan sampah, Bu Tini juga menaruh perhatian pada bidang-bidang yang lain seperti pelestarian lingkungan dan dunia kepariwisataan. Pengelolaan sampah memang sangat berkelindan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk pengembangan desa wisata yang saat ini sedang digelorakan kembali oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI bersama Pemerintah Daerah (Pemda) di Indonesia. Hal itu bisa dimaklumi mengingat daya tarik desa wisata dalam bentuk keindahan alam, budaya lokalita, situs peninggalan sejarah, dan potensi yang lain tidak akan dilirik oleh wisatawan lokal, nusantara dan manca negara jika kondisi lingkungannya terlihat kotor, bau tidak sedap dan tidak nyaman.
Perempuan kelahiran Bandung ini memiliki nama lengkap Tini Martini Tapran, S.Si, M.Sos. Sehari-hari biasa dipanggil dengan sebutan Bu Tini. Perempuan yang memiliki hobi membaca, menulis dan traveling ini memiliki seabreg kegiatan, karya dan penghargaan dibidang pengelolaan sampah dan dibidang-bidang lainnya. Setelah menempuh pendidikan formal di Fakultas MIPA ITB dan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNPAR, Bu Tini terus meningkatkan dan mengasah kemampuannya dengan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan, work shop (loka karya) dan seminar baik di dalam maupun di luar negeri di lingkup pengelolaan sampah, pelestarian lingkungan dan kepariwisataan. Salah satu pelatihan yang dianggap penting dan memberikan kesan mendalam bagi Bu Tini adalah pelatihan yang dilaksanakan selama dua pekan di Zerowaste Academy di Filipina pada tahun 2017. Pelatihan yang belakangan telah memperkuat peran Bu Tini dalam melakukan pengelolaan sampah di kota Bandung dan di daerah-daerah lain di Indonesia. Timbulan sampah di Indonesia baik organik maupun anorganik saat ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. Dampak negatip yang ditimbulkan dari sampah yang tidak tertangani dengan baik adalah terjadinya pencemaran lingkungan hidup, gangguan kesehatan pada masyarakat dan peningkatan gas rumah kaca (GRK) yang dapat memicu perubahan suhu dan iklim global. Sebagian besar dari total timbulan sampah di Indonesia adalah sampah organik (57 %), selebihnya adalah sampah anorganik/plastik (15 %), kertas (10 ) dan sampah lainnya (17 %). Kuntributor terbesar sampah organik adalah sampah yang berasal dari rumah tangga (38 %), kawasan (16 %), pasar (16 %), perniagan (7 %), fasilitas publik (5 %), perkantoran (5 %) dan sampah lainnya (15 %). Hal itu yang menjadi salah satu petimbangan mengapa penanganan sampah senantiasa berbasis dari rumah tangga atau dari sumbernya.
Sebagai Ketua Yayasan Generasi Semangat Selalu Ikhlas (GSSI), selain menyandang peran sebagai pemerhati, pegiat dan praktisi pengelolaan sampah, Bu Tini juga memiliki sederet peran yang lain seperti sebagai fasilitator, koordinator, kontributor dan kolaborator dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Peran-peran yang sangat membantu Bu Tini terutama ketika dilibatkan dalam kegiatan penanganan sampah di Kota Bandung melalui penerapan model-model pengembangan kawasan bebas sampah (KBS) hasil kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung dengan komunitas Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS) yang kemudian bertransformasi menjadi Kang Pisman (Kurangi, Pisah dan Manfaatkan Sampah). Kang Pisman merupakan salah satu model penanganan sampah yang berbasis dari rumah tangga atau dari sumbernya, sehingga sampah sebisa mungkin tidak sampai ke TPS dan TPA atau dibuang secara sembarangan di sungai dan badan-badan air yang lain yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan baik pada masyarakat maupun makhluk hidup yang lain. Model ini oleh Bu Tini telah dicobakan di ke-RW-an Cibunut, Kelurahan Kebun Pisang, Kota Bandung. Meski memerlukan waktu yang relatip lama dan penuh dengan lika-liku, penangan persoalan sampah di ke-RW-an Cibunut, Kelurahan Kebon Pisang, Kota Bandung ini telah menjadi best practice dan sekaligus success story dalam penanganan sampah dari rumah tangga atau dari sumbernya. Tidak kalah pentingnya adalah dari pengalaman penanganan sampah di ke-RW-an Cibunut, Kelurahan Kebun Pisang, Kota Bandung ini, telah tergali suatu sistem yang tepat dan strategi pemberdayaan masyarakat terutama pada ibu-ibu rumah tangga untuk bisa memahami dan mempraktekan kegiatan pilah, pilih dan olah sampah menjadi produk-produk yang memiliki kemanfaatan atau bernilai ekonomi tinggi. Melalui sistem dan strategi pemberdayaan masyarakat dalam penangan sampah ini, ibu-ibu rumah tangga yang berperan serta aktif dan telah diedukasi serta mengikuti kegiatan sosialisasi, diharapkan dapat memahami dan menerapkan berbagai konsepsi yang berbasis pada prinsip-prinsip reuse, reduce dan recycle (3 R) serta sirkular ekonomi atau ekonomi melingkar dalam pengelolaan sampah. Keberhasilan dalam penanganan sampah di ke-RW-an Cibunut, Kelurahan Kebon Pisang, Kota Bandung ini kemudian di replikasi dan dikembangkan di daerah-darah lain di Kota Bandung. Bahkan model yang sama saat ini telah diujicobakan di beberapa daerah di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Sebagai pendidik yang sekaligus penulis, Bu Tini mencoba menuangkan tahapan-tahapan dalam sistem dan strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi bahan ajar berupa modul PasGeBer (Pasukan Gerakan Bersih) yang mudah dipahami oleh warga belajar, terutama anak-anak, remaja dan dewasa (generasi muda). Dalam kegiatan belajar-mengajarnya dilakukan dengan menggunakan pendekatan "belajar dari pengalaman atau experience learning cycle (ELC)" dengan menggunakan kombinasi metoda belajar-mengajar seperti penjelasan singkat, tanya jawab, diskusi dan penyelesaian masalah (problem solving).
Seperti pegiat pengelolaan sampah yang lain, Bu Tini dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki juga telah diminta menjadi nara sumber dalam penangangan sampah di berbagai tempat di Indonesia baik secara daring melalui zoom meeting maupun luring (off line) dengan kunjungan langsung ke lapangan. Mungkin tidak hanya model penanganan sampah saja yang harus direplikasi, akan tetapi sosok-sosok seperti Bu Tini ini yang perlu "ditumbuhkembangkan" sebagai bagian dari unsur kolaborasi multi pihak ABCGM sehingga penanganan sampah di Indonesia bisa dilakukan secara tuntas dan berkesinambungan. Selamat berjuang dan maju terus Bu Tini dalam pengelolaan sampah di Indonesia untuk bumi yang asri, nyaman dan lestari.
KASONGAN, Bantul, Yogyakarta, 5 Agustus 2022.
Asikin Chalifah
》 Ketua DPW PERHIPTANI DIY
》 Pembina Rumah Literasi (RULIT) WASKITA, Kedungtukang, BREBES.




