Rabu, 27 Mei 2026

Peran Kader Edukasi Lingkungan itu Penting


kelompok Edukasi Lingkungan Pangauban 

 Dulu, banyak orang mengira persoalan sampah selesai ketika truk datang mengangkutnya.

Sampah dianggap hilang begitu saja saat keluar dari halaman rumah. Padahal kenyataannya, sampah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat  dari dapur rumah kita menuju TPS, lalu menumpuk di TPA, mencemari tanah, air, dan udara yang akhirnya kembali lagi kepada manusia.

Karena itulah, pemilahan sampah menjadi langkah pertama yang sangat penting.

Bahkan bisa disebut sebagai “jalan ninja” dalam pengelolaan sampah.

Mengapa disebut jalan ninja?

Karena pemilahan adalah pintu awal dari semua proses berikutnya.

Kalau sampah sudah tercampur, semuanya menjadi sulit. Organik bercampur dengan plastik, sisa makanan mencemari bahan daur ulang, bau muncul, belatung datang, dan akhirnya semua dianggap residu lalu dibuang begitu saja.

Tetapi ketika sampah dipilah sejak dari rumah, maka pengelolaannya menjadi jauh lebih mudah.

Sampah organik bisa langsung diolah menjadi kompos.

Bahan daur ulang tetap bersih dan memiliki nilai ekonomi.

Residu menjadi sedikit.

Lingkungan menjadi lebih sehat.

Biaya pengangkutan berkurang.

TPS tidak cepat penuh.

Dan yang paling penting adalah masyarakat mulai belajar bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri.

Namun kenyataannya, membangun kebiasaan memilah sampah bukan pekerjaan sehari dua hari.

Ini bukan hanya soal menyediakan tempat sampah warna-warni.

Ini tentang mengubah cara pikir, mengubah kebiasaan, bahkan mengubah budaya.

Di awal, pasti sulit.

Ada yang bilang lupa memilah.

Ada yang merasa repot.

Ada yang berkata, “Nanti juga dicampur lagi sama petugas.”

Ada pula yang merasa sampah bukan urusannya.

Tetapi justru di situlah pentingnya edukasi yang terus menerus.

Edukasi tidak cukup hanya lewat spanduk atau seminar sekali selesai.

Kadang perjuangan sesungguhnya terjadi saat harus mengetuk pintu rumah satu per satu.

Menyapa warga.

Menjelaskan dengan sabar.

Mendengarkan keluhan mereka.

Mengulang penjelasan yang sama berkali-kali.

Karena tujuan sesungguhnya bukan hanya agar warga “tahu”, tetapi agar warga “mau melakukan”.

Maka para kader lingkungan, pengurus RT/RW, fasilitator, dan pegiat lingkungan sering berjalan dari rumah ke rumah memastikan tidak ada pintu yang terlewat.

Memastikan setiap kepala keluarga memahami: mana sampah organik,

mana anorganik,

dan mana residu.

Mereka hadir bukan untuk menghakimi masyarakat, tetapi menemani proses perubahan itu.

Sedikit demi sedikit, perubahan mulai terlihat.

Ada ibu-ibu yang mulai membuat kompos dari sisa dapur.

Ada anak-anak yang mulai menegur orang tuanya kalau salah membuang sampah.

Ada warga yang mulai mengumpulkan bahan daur ulang.

Ada RT yang mulai punya kebun dari hasil kompos bersama.

Dan dari situ masyarakat mulai sadar: ternyata sampah bukan hanya masalah, tetapi juga sumber pembelajaran dan kebermanfaatan.

Dalam pengelolaan sampah, yang paling ideal sebenarnya adalah menyelesaikan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya.

Sampah organik sebaiknya selesai di halaman rumah masing-masing.

Karena organik itu cepat membusuk dan paling banyak jumlahnya. Jika selesai di rumah, maka volume sampah yang keluar ke TPS akan berkurang drastis.

Sisa nasi bisa jadi pakan maggot.

Daun kering bisa jadi kompos.

Sisa sayur dan buah bisa kembali menjadi tanah yang menyuburkan tanaman.

Namun tentu tidak semua rumah memiliki lahan atau kemampuan yang sama.

Ada rumah yang sempit.

Ada warga lansia.

Ada yang bekerja seharian dan belum mampu mengelola sendiri.

Karena itu penyelesaian berikutnya dilakukan secara komunal di tingkat RT atau RW.

Di situlah semangat gotong royong hidup kembali.

Kompos dikelola bersama.

Lubang biopori dibuat bersama.

Bank sampah dijalankan bersama.

Warga saling membantu dan saling menguatkan.

Pengelolaan sampah akhirnya bukan hanya soal sampah.

Tetapi tentang membangun kepedulian, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Dan perjalanan ini memang panjang.

Kadang melelahkan.

Kadang terasa lambat.

Kadang membuat putus asa ketika masih ada sampah tercampur.

Tetapi setiap rumah yang mulai memilah adalah kemenangan kecil.

Setiap anak yang mulai paham menjaga bumi adalah harapan besar.

Dan setiap warga yang mau berubah adalah langkah menuju masa depan lingkungan yang lebih baik.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari hal sederhana: dari dapur rumah,

dari satu kantong sampah yang dipilah,

dan dari satu pintu rumah yang diketuk dengan penuh kesabaran. 🌱



Berbagi Film Paling “Membekas” The Lion King

 Di WAG #100HariCariPerkara kemarin tantangannya #Tantangan13 Berbagi Film Paling “Membekas” 


Kalau ditanya film apa yang paling membekas dalam hidupku, jawabannya mungkin sederhana… tapi jejaknya panjang sekali di hati kami sekeluarga: The Lion King 🦁

Film itu bukan sekadar tontonan.

Ia seperti penanda perjalanan hidup.


Dulu… saat kami masih muda, masih sama-sama malu menyebut “masa depan”, aku dan lelaki yang sekarang menjadi suamiku pergi menonton The Lion King bersama. Waktu itu kami belum menjadi suami istri. Masih dua orang yang sedang belajar saling mengenal, belajar saling percaya, dan diam-diam menyimpan harapan tentang hidup bersama.

Yang paling melekat di ingatanku waktu itu adalah kalimat:

“Hakuna Matata.”

Katanya artinya “tidak perlu khawatir”.

Dulu aku menganggapnya lucu, ringan, dan menyenangkan. Seolah hidup memang bisa dijalani sambil tertawa dan bernyanyi seperti Timon dan Pumbaa.

Tapi ternyata… setelah usia bertambah, aku baru sadar bahwa maknanya jauh lebih dalam.

“Hakuna Matata” bukan berarti hidup tanpa masalah.

Melainkan tentang belajar tetap berjalan meski hidup penuh luka, kehilangan, dan ketidakpastian.

Dan ternyata benar… kehidupan setelah menikah tidak selalu mudah.

Ada masa-masa lelah. Ada tanggung jawab yang berat. Ada hari ketika hati terasa penuh. Ada ketakutan tentang anak, masa depan, ekonomi, kesehatan, dan banyak hal lainnya.

Namun anehnya… setiap kali mengingat kalimat itu, rasanya seperti diingatkan untuk bernapas lebih pelan.

Bahwa hidup tidak harus sempurna untuk tetap disyukuri.


Lalu waktu berjalan…

Kami punya anak pertama, si sulung yang lahir tahun 1996. Dan tanpa disangka, The Lion King menjadi film favoritnya. Film itu diputar lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai mungkin ratusan kali 😄

Aku hafal dialognya.

Hafal adegannya.

Hafal kapan Simba mulai sedih, kapan Timon mulai bercanda, bahkan hafal lagu-lagunya.


Dan ketika si bungsu lahir tahun 2003… cerita itu terulang lagi.

Rumah kami kembali dipenuhi suara:

🎵 Hakuna Matata… what a wonderful phrase… 🎵

Kadang diputar dari VCD yang mulai buram. Kadang anak-anak menirukan gaya Simba kecil sambil berlari-lari di ruang tamu. Kadang kami menonton sambil makan camilan sederhana, tanpa sadar bahwa momen-momen kecil itu kelak akan menjadi kenangan paling mahal.


Sekarang… setelah anak-anak tumbuh besar, aku justru semakin mencintai filosofi lain dari film itu:

“The Circle of Life.”

Dulu mungkin aku hanya mendengar lagunya indah.

Sekarang aku memahami maknanya.

Bahwa hidup memang berputar.

Ada masa menjadi anak kecil yang digendong.

Lalu tumbuh menjadi orang tua yang menggendong anak.

Ada masa kuat. Ada masa rapuh.

Ada pertemuan. Ada kehilangan.

Ada awal kehidupan… dan ada perpisahan yang tak bisa ditolak.


Semua saling terhubung.

Seperti alam yang terus berputar.

Seperti bumi yang harus dijaga agar generasi berikutnya tetap bisa hidup dengan baik.

Mungkin karena itu sekarang aku begitu mencintai pekerjaan dan perjuangan tentang lingkungan hidup. Karena aku sadar, “circle of life” bukan cuma tentang manusia. Tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan bumi tempat semua kehidupan berlangsung.


Dan dari sekian banyak adegan… ada satu yang sampai sekarang masih membuat hatiku hangat:

Saat Simba dan Nala bertemu kembali.

Dengan lagu Can You Feel the Love Tonight mengalun pelan di belakangnya.

Adegan itu sederhana. Tapi rasanya begitu dalam.

Tentang dua jiwa yang akhirnya kembali menemukan rumahnya.

Tentang cinta yang tumbuh bersama waktu.

Tentang seseorang yang tetap terasa akrab meski hidup sudah membawa kita jauh ke mana-mana.

Mungkin itu juga yang kurasakan tentang pernikahan.

Bahwa cinta bukan cuma tentang momen besar.

Tapi tentang menemani perjalanan panjang kehidupan.

Tentang bertahan melewati perubahan.

Tentang tetap saling memilih, bahkan setelah puluhan tahun.

Dan lucunya… semua kenangan itu bermula dari seekor anak singa kecil bernama Simba 🦁✨



Selasa, 27 Mei 2025

“Jejak Air dan Sampah di Kampung Sumber Sejuk”


Di sebuah kampung kecil bernama Sumber Sejuk, tinggal seorang anak perempuan berusia delapan tahun bernama Tiwi. Tiwi senang bermain air di sungai kecil yang mengalir jernih di belakang rumahnya. Sungai itu bukan hanya tempat bermain, tetapi juga sumber air bersih untuk warga kampung.

Setiap pagi, Tiwi membantu ibunya, Bu Tini, menyiram tanaman dari air sisa cucian beras yang ditampung di ember. Mereka juga memilah sampah rumah tangga: sisa makanan masuk ke tong hijau, plastik ke tong biru, dan popok serta pembalut ke tong abu-abu. Semua itu diajarkan oleh Pak Iman, ketua RW yang juga relawan lingkungan kampung mereka.

Namun suatu hari, sungai di belakang rumah Tiwi mulai berubah. Warnanya menjadi keruh kecoklatan, bau menyengat tercium di sore hari, dan ikan-ikan kecil yang biasa berenang menghilang. Tiwi sedih dan bertanya kepada ibunya, “Bu, kenapa sungainya sekarang bau? Airnya juga kotor. Aku nggak bisa main-main lagi.”

Bu Tini menghela napas dan berkata, “Sepertinya banyak warga yang masih buang sampah ke selokan. Hujan deras beberapa hari lalu bawa semua sampah itu ke sungai.”

Tiwi termenung. Ia teringat Pak Iman pernah berkata dalam pertemuan warga, “Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mencemari air. Kalau air kotor, kita yang rugi. Air tanah bisa tercemar, dan tanaman bisa layu.”

Tiwi tak bisa diam. Ia ingin sungai kembali jernih. Keesokan harinya, ia mengajak kakaknya, Eko yang berusia 15 tahun, untuk keliling kampung. “Ko, kita harus kasih tahu warga tentang bahaya buang sampah sembarangan. Aku nggak mau sungai kita mati.”

Eko, meski awalnya malas, akhirnya setuju. Bersama-sama, mereka membuat poster dari kardus bekas bertuliskan:
“Sampahmu, Airmu, Hidupmu. Jangan Buang Sampah ke Sungai!”
Mereka menggambar sungai yang penuh ikan dan tumbuhan hijau di satu sisi, dan sungai penuh sampah di sisi lain.

Mereka meminta izin ke Pak Iman untuk menempelkan poster itu di balai RW, warung, dan depan sekolah. Tak hanya itu, mereka juga mengajak boneka kesayangan Tiwi, Yasmina dan Kang Pisman, ikut dalam kampanye lingkungan kecil-kecilan.

Pak Iman mendukung penuh. “Wah, kalian luar biasa! Kalian sudah paham hubungan antara sampah dan air. Ini yang harus kita tanamkan ke semua warga. Mau bantu saya adakan kerja bakti minggu depan?”

Tiwi dan Eko bersorak, “Mau!”

Hari Minggu tiba. Warga berkumpul di pinggir sungai. Bu Tini membawa makanan ringan untuk semua, dan Pak Iman membawa karung-karung besar untuk memungut sampah. Tiwi dan Eko membagikan sarung tangan dan masker kain buatan Ibu-ibu PKK dari kain perca.

Mereka bekerja bersama-sama: memungut plastik, menyapu daun, dan mencabut rumput liar. Setelah beberapa jam, sungai tampak lebih bersih. Walau airnya belum sepenuhnya jernih, mereka merasa bangga. Hari itu menjadi hari pertama dari gerakan “Sungai Hidup, Kampung Sehat.”

Di akhir kegiatan, Pak Iman menjelaskan lebih lanjut kepada warga, “Air hujan yang jatuh ke tanah harus bisa meresap. Kalau banyak sampah menyumbat saluran, air jadi tergenang dan membawa polutan ke sungai dan sumur kita. Kita harus jaga siklus air agar tidak rusak.”

Ia menunjukkan gambar sederhana: hujan turun → meresap ke tanah → jadi air tanah → keluar di mata air dan sungai.
“Tapi kalau tanah tertutup plastik dan sampah, air tidak bisa masuk. Dia lari ke sungai bawa sampah, dan akhirnya kita kena banjir atau krisis air bersih.”

Warga mulai mengerti. Sejak hari itu, kampung Sumber Sejuk menerapkan beberapa kebiasaan baru:

  1. Pemilahan Sampah di Rumah: Setiap rumah wajib punya tiga tempat sampah—hijau, biru, abu. Sampah organik dikumpulkan untuk dijadikan kompos.

  2. Lubang Resapan Biopori: Di depan rumah dibuat lubang-lubang kecil untuk menyerap air hujan agar tidak mengalir ke jalan.

  3. Bank Sampah dan Komposter Komunal: Warga membawa sampah anorganik ke bank sampah setiap minggu, dan sisa makanan dibawa ke komposter RW.

  4. Sungai Bersih Tiap Bulan: Anak-anak sekolah dilibatkan untuk menjaga sungai, belajar ekosistem, dan menghitung jumlah ikan kecil yang kembali.

Tiwi menjadi duta kecil lingkungan. Ia diundang ke sekolah-sekolah tetangga untuk bercerita tentang Sungai Sumber Sejuk. Ia bercerita dengan penuh semangat, “Kalau kita buang sampah sembarangan, kita sedang merusak air. Tapi kalau kita jaga air, kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri.”

Ia menutup ceritanya dengan pertanyaan, “Maukah kalian bantu aku menjaga air dan lingkungan? Yuk, mulai dari rumah!”

Senin, 27 Januari 2025

Menjaga Komitment

 Komitmen adalah janji yang kita buat kepada diri sendiri untuk tetap konsisten, apa pun rintangannya. Salah satu cara sederhana untuk melatih komitmen adalah dengan menjalankan aktivitas yang sudah direncanakan, meskipun terkadang ada hambatan yang datang.

Kemarin, misalnya, hujan turun di siang  hari. Namun, aku tetap memutuskan untuk pergi ke kebun seperti yang sudah aku niatkan. Bagi sebagian orang, mungkin ini terdengar sederhana, tetapi bagiku, ini adalah latihan untuk tetap konsisten terhadap tujuan yang sudah ditetapkan.

Berkebun di tengah suasana sejuk setelah hujan ternyata memberi banyak pelajaran. Tanah yang lembap memudahkan proses menanam, aroma segar setelah hujan memberikan ketenangan, dan melihat tanaman-tanaman yang dirawat tumbuh subur menjadi kepuasan tersendiri. Aktivitas ini tidak hanya membuat liburan lebih bermakna, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap usaha kecil yang kita lakukan akan membawa hasil di kemudian hari.

Komitmen tidak selalu tentang hal-hal besar. Terkadang, justru dimulai dari langkah kecil seperti menyisihkan waktu untuk merawat kebun, membaca buku, atau bahkan beristirahat dengan terencana. Dengan menjaga konsistensi dalam hal kecil, kita sedang membangun pondasi untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.  Seperti halnya tahun ini alhamdulillah sampai hari ke-28 ini aku tetap konsisten posting setiap hari untuk @30haribercerita  karena aku percaya , hal kecil yang dilakukan dengan tekun akan membentuk kebiasaan besar yang membawa manfaat berkelanjutan.  Dan Resolusiku tahun ini adalah produktif menulis kembali,  maka  menulis #30haribercerita adalah latihan untuk sepanjang tahun 2025 Terima kasih #30bhc2528 semoga kita bisa bersua lagi di tahun-tahun mendatang

https://www.instagram.com/p/DFWQxyLT64w/?igsh=MTF5cW14NjJndWw2OA==

Kamis, 23 Januari 2025

Kebahagiaan Seorang Ibu itu Sederhana

 

Ada momen dalam hidup seorang ibu yang begitu sederhana, tapi tak tergantikan rasanya. Hari ini, aku menerima kiriman  dari putriku. Bukan barang mewah atau sesuatu yang besar, melainkan sesuatu yang sangat aku butuhkan: ikat rambut, peniti, dan gunting kuku.

Bagi orang lain, mungkin ini hanya barang kecil. Tapi bagiku, ini lebih dari sekadar benda. Ini adalah bukti bahwa ia memperhatikan kebutuhanku, meskipun kami terpisah jarak. Sebagai ibu, aku sering sibuk hingga lupa di mana menaruh barang-barang kecil seperti ini tapi akan susah kalau ga ada di rumahku.  Ia tahu aku membutuhkannya, dan dengan penuh cinta, ia mengirimkannya dari jauh.  Dia tahu benda-benda ini sangat aku butuhkan dalam keseharianku dan sering kali aku cari hihihi.

Benda-benda  ini membuatku sadar, cinta anak kepada ibunya tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata besar atau gestur yang mewah. Bahkan dengan barang sederhana, ia bisa menunjukkan perhatian yang begitu tulus.  Ada perasaan hangat yang menjalar di hati, mengingatkan aku bahwa perhatian anak-anak adalah bentuk cinta yang paling murni. Ia tidak hanya melihatku sebagai seorang ibu yang kuat, tapi juga seseorang yang kadang butuh hal-hal kecil untuk mempermudah keseharian.

Hadiah ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan sering kali datang dari hal-hal sederhana. Bukan tentang nilai barangnya, tapi tentang kepedulian di baliknya. Aku merasa seperti ibu paling bahagia di dunia, hanya karena ikat rambut, peniti, dan gunting kuku dari anakku tercinta.

Terima kasih, No,  Hadiah kecilmu membuat hari-hariku menjadi lebih ceria dan berwarna.

Kepada para ibu di luar sana, ingatlah: kebahagiaan kita tidak selalu berasal dari hal-hal besar. Kadang, hadiah kecil penuh perhatian bisa membuat kita merasa dicintai lebih dari apa pun di dunia ini.
@30haribercerita #30haribercerita #30bhc2524 #senyumsemangatikhlas
#smileupyourworld

Rabu, 22 Januari 2025

Perpanjang Umur Barang dengan Reparasi: Solusi Bijak untuk Mengurangi Limbah

 


Kemarin saya memperbaiki sandal rumah yang alasnya lepas. Awalnya saya berpikir untuk membeli yang baru, apalagi sandal baru sekarang banyak yang murah. Tapi, saya sadar, memperbaiki barang yang masih bisa digunakan adalah pilihan yang jauh lebih bijak.

Repair  salah satu cara efektif untuk memperpanjang umur barang yang kita miliki. Selain menghemat uang, kita juga turut mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan. Bayangkan jika setiap kerusakan kecil langsung membuat kita membuang barang tersebut, berapa banyak sampah yang akan menumpuk? 

Dengan memperbaiki sandal saya, saya menyadari ada kepuasan tersendiri. Barang yang kita perbaiki dengan tangan kita sendiri menjadi lebih bernilai. Dan saya senang membuat tukang sol punya penghasilan 

Jadi, dalam prinsip 5R atau lebih Repair salah satu yang bisa jadi pertimbangan, so sebelum memutuskan membeli barang baru, coba pikirkan.  Apakah barang ini masih bisa diperbaiki? Banyak barang bisa disulap menjadi seperti baru dengan sedikit usaha.  Apakah saya benar-benar membutuhkannya? Barang murah kadang menggoda, tapi seringkali hanya menambah tumpukan barang yang jarang dipakai. 

Apa dampaknya pada lingkungan? Memperbaiki barang berarti kita berkontribusi dalam menjaga bumi kita tetap sehat. 

Sekarang jamannya YONO  You  only  need one sebuah prinsip hidup yang menekankan pada konsumsi minimalis dan hanya membeli barang atau jasa yang benar-benar dibutuhkan

Dengan memperpanjang umur barang melalui reparasi, kita tidak hanya menghemat uang, tapi juga menunjukkan kepedulian pada lingkungan. Ayo biasakan memperbaiki, bukan membuang!

@30haribercerita #30haribercerita #30bhc2523 #literasilingkungan

#senyumsemangatikhlas #smileupyourworld

https://www.instagram.com/p/DFJS0yjzBl2/?igsh=MXQ0bjA2dWx4MHg3cQ==